LAYANAN BAYI TABUNG DI RSIA SAMMARIE BASRA
Penyakit berubah mengikuti perubahan zaman
Sekarang zaman makin berubah, demikian pula dengan pola dan gaya hidup, serta pola pandang berkeluarga. Sekitar 50 tahun yang lalu di negeri ini, calon pasangan suami-istri (pasutri) menikah pada usia yang relatif muda. Setiap pasutri memiliki anak lebih dari dua, bahkan di desa-desa dan kota kecil kala itu masih dapat dijumpai pasutri memilih anak belasan. Kini, pola keluarga dengan anggota keluarga yang banyak sudah langka ditemukan. Namun sebaliknya, pasutri dengan keluarga kecil, dan pasutri yang mendambakan anak makin sering dan banyak ditemukan. Tampaknya, keadaan ini disebabkan oleh konsep hidup yang sudah berganti.
Dewasa ini makin banyak calon pasutri menikah di atas usia 30-an, bahkan ada yang lebih tua lagi. Akibatnya, kendala untuk keberhasilan memiliki keturunan makin besar. Diperkirakan hal ini dapat disebabkan oleh jumlah dan mutu sel benih yang makin menurun. Pasutri yang sukar atau belum berhasil memiliki anak setelah menikah dan hidup normal serta bergaul sebagai suami istri selama 12 bulan berturut-turut tanpa perlindungan kontrasepsi (peralatan keluarga berencana) disebut sebagai pasutri infertil (tidak subur). Patokan ini dikecualikan bagi pasutri dengan istrinya berumur 35 tahun atau lebih; biasanya dipakai batas 6 bulan, karena puncak kesuburan pada wanita mulai menurun setelah umur 35 tahun. Di dunia, termasuk Indonesia, secara umum jumlah kasus infertilitas diperkirakan sekitar 15% dari jumlah penduduk.
Penyebab infertilitas pada pasutri
Penyebab infertilitas bermacam-macam; dapat dikarenakan kelainan bentuk organ reproduksi (disebut kelainan organik) dan atau kelainan fungsi organ reproduksi (disebut kelainan fungsional). Contoh kelainan organik istri adalah sumbatan saluran sel telur (35%), penyakit endometriosis, kista ovarium (indung telur), tumor otot uterus (rahim) misalnya miom dan adenomiosis, perlekatan di dalam rongga panggul akibat infeksi terdahulu, dan kelainan bawaan organ reproduksi perempuan. Pada suami, kelainan organik dapat berupa sumbatan saluran benih spermatozoa, ukuran testis (zakar) yang tidak normal, kelainan pada kelenjar prostat dan vesikula seminalis, pelebaran pembuluh darah balik (vena) di testis yang dikenal sebagai varikokel, infeksi saluran reproduksi misalnya gonorea, sifilis, herpes genital, HIV, klamidia, mikoplasma, dan jamur. Selain itu juga ada kemungkinan terjadi gangguan interaksi antara spermatozoa dengan getah leher rahim (serviks) yang disebut reaksi antibodi antisperma.
Contoh kelainan fungsional yang paling sering pada istri adalah gangguan ovulasi, yang sebagian besar disebabkan oleh gangguan hormon reproduksi, misalnya peningkatan kadar hormon testosteron, prolaktin, dan LH. Pada pihak suami, kelainan fung-sional tampak sebagai penurunan jumlah spermatozoa yang dihasilkan oleh testis, dise-but oligozoospermia, atau penurunan mutunya, disebut astenozoospermia.
Sebagian besar gangguan tersebut di atas dapat ditangani dengan pemberian obat atau dengan pembedahan agar dapat berhasil memberikan keturunan; sebagian lagi harus dibantu dengan cara lain, yang disebut dengan cara teknologi reproduksi berbantu, disingkat TRB atau disebut pula assisted reproductive technology, disingkat ART. Cara TRB yang telah berkembang pesat dalam beberapa puluh tahun belakangan ini adalah teknologi rekayasa reproduksi in vitro, yaitu fertilisasi in vitro (FIV), yang lebih populer dikenal sebagai cara "bayi tabung (test-tube baby)"; meski bayi hasil rekayasa tersebut tidak dibesarkan di dalam tabung atau dilahirkan dari tabung.
Sebelum pasutri infertil ingin menjalani program TRB, terlebih dahulu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Semua pemeriksaan infertilitas dasar dan lanjutan harus sudah dilaksanakan sebelumnya pada kedua belah pihak. Langkah-langkah pemeriksaan ini juga dilakukan untuk pasutri yang akan menjalani cara pertolongan yang lebih awal sebelum masuk ke cara FIV, yaitu memasukkan ke dalam rongga rahim spermatozoa (inseminasi) suami yang sudah diolah dan dipilih yang terbaik dengan pipa kateter halus atau dikenal sebagai inseminasi buatan intrauterin (IIU). Dengan cara ini diharapkan spermatozoa lebih mudah bertemu dengan sel telur, walaupun tingkat keberhasilannya hanya 15 - 25% per siklus tindakan. Dengan teknik FIV, keberhasilan hamil dapat ditingkatkan mencapai sekitar 35% per siklus tindakan.
Proses teknologi reproduksi berbantu (TRB) FIV ( “bayi tabung”)
Sebagaimana sudah umum diketahui, bayi hasil rekayasa TRB pertama lahir di dunia ini adalah bayi perempuan bernama Louise Brown asal Inggris pada 1978. Dalam proses TRB dilakukan perangsangan indung telur istri dengan obat perangsang indung telur untuk menumbuhkan lebih dari satu sel telur. Perangsangannya dapat berlangsung singkat (protokol pendek) sekitar 3-4 minggu atau lama (protokol panjang) se-kitar 5 - 6 minggu sampai sel telur dianggap cukup matang dan tiba saatnya untuk "dipanen". Dahulu, folikel (kantong telur yang berisi benih sel telur) diambil secara pembedahan; tetapi pada masa sekarang dilakukan dengan cara yang lebih aman melalui jarum isap dengan tuntunan alat ultrasonografi (USG) melalui saluran liang vagina (transvaginal).
Semua sel telur yang berhasil dipanen akan dibersihkan dari sel-sel pembungkus di sekelilingnya untuk kemudian disimpan di dalam alat pengeram (inkubator) di laboratorium. Pada saat yang bersamaan, setelah sel telur pasti berhasil dipisahkan, maka air mani suami dikeluarkan di kamar pengumpul sperma dengan cara masturbasi, untuk dibersihkan, dan kemudian diambil sekitar 50.000 - 100.000 butir spermatozoa yang bermutu baik. Di laboratorium embriologi, spermatozoa itu ditaburkan ke sekeliling sel telur yang sudah terpilih di dalam satu wadah khusus. Sel telur yang terbuahi normal, ditandai dengan adanya dua sel inti, yang segera membelah bertahap untuk menjadi embrio. Mencapai hari ketiga, sekitar 1-3 embrio yang sudah berkembang ditanamkan ke selaput rahim istri. Hasilnya ditunggu dalam dua minggu kemudian, untuk dilakukan pemeriksaan hormon beta-hCG dari darah untuk meyakinkan bahwa kehamilan memang telah terjadi.
Pemeliharaan kehamilan hasil TRB
Setelah jumlah embrio yang ditanamkan ke selaput dalam dinding rahim (endome-trium), calon ibu perlu beristirahat (dirawat) di rumah sakit selama 1-2 malam untuk memperoleh pengamatan. Calon ibu ini diberikan obat-obat penenang otot rahim untuk mencegah kejang-otot (kontraksi) rahim.
Selanjutnya, kehamilan hasil dari rekayasa reproduksi TRB memerlukan pengawasan yang lebih khusus dibandingkan dengan kehamilan hasil pembuahan alami atau inseminasi buatan intrauterin. Lazimnya, sebelum persiapan untuk menjadi peserta TRB tersebut, pasutri sudah diperiksa keadaan infeksi di dalam tubuhnya, yang dikenal sebagai infeksi TORSH-KM (toksoplasma, rubela, sitomegalus, herpes, klamidia, dan mikoplasma). Apabila positif, infeksi tersebut ditangani dengan obat yang sesuai. Jika istri dari pasutri dengan infeksi positif ini kemudian hamil dengan program bayi tabung, maka ia tetap diberikan obat dengan dosis yang sesuai untuk ibu hamil, yang diberikan terus sampai bayinya lahir.
Selain itu, pada saat kehamilan diketahui sedini mungkin, maka dilakukan pemeriksaan fungsi hormon plasenta dan kondisi kepekatan darah ibu hamil. Bilamana ditemukan keadaan yang tidak normal, maka segera diberikan obat dengan dosis yang terpilih untuk ibu hamil. Biasanya diberikan obat yang mengandung progesteron, obat perangsang korpus luteum pada kehamilan dini, dan obat-obat pengencer darah.
Hal-hal yang menguntungkan dari program TRB
Bagi pria yang memiliki masalah organik pada testisnya, teknik TRB dapat menjadi salah satu jalan keluar. Misalnya, pada pria penderita kanker testis maka dari bagian yang masih baik dapat diambil spermatozoanya dengan cara ekstraksi atau testis yang sudah dipotong dapat segera dikirim ke Klinik atau Rumah Sakit yang memiliki Layanan Khusus Fertilitas untuk diambil spermatozoanya dan dibekukan.
Apabila dengan cara TRB konvensional belum berhasil dicapai pembuahan, maka dapat dilakukan upaya lain dengan menyuntikkan butir sperma ke dalam sel telur yang sebelum telah ditangani secara mikromanipulasi, seperti PZD (partial zona dissection) dan SUZI (subzonal sperm intersection). Pada teknik PZD, spermatozoa disemprotkan ke dalam sel telur setelah dinding sel telur dibuat celah untuk mempermudah kontak sperma dengan inti sel telur. Sedangkan pada SUZI spermatozoa disuntikkan langsung ke dalam lapisan bungkus sel telur.
Pada keadaan suami pasutri infertil tidak ada benih spermatozoa (azoospermia) di dalam air mani, kini sudah dapat dilakukan pengambilan spermatozoa langsung secara pembedahan pada saluran air mani atau testis. Tekniknya ada dua, yaitu MESA (mi-crosurgical sperm aspiration) dan TESE (testicular sperm extraction). Pada MESA, spermatozoa diambil langsung dari wadah penampungan tempat spermatozoa itu di-matangkan dan disimpan, yang disebut epididimis. Dengan cara TESE, spermatozoa langsung diambil dari testis, sebagai induk pabrik spermatozoa. Setelah spermatozoa diambil, kemudian dipilih yang paling baik saja. Selanjutnya, dilakukan langkah-langkah menurut tatacara suntik spermatozoa ke dalam rongga cairan sel telur (suntik sperma intrasitoplasma, SSIS) atau intracytoplasmic sperm injection (ICSI).
Teknik SSIS sangat tepat diterapkan pada pasutri infertil dengan mutu dan jumlah spermatozoa yang sangat sedikit. Pada teknik FIV konvensional diperlukan 50.000 - 100.000 spermatozoa untuk membuahi sel telur, sedangkan pada SSIS hanya dibutuhkan satu butir sperma dengan mutu terbaik. Melalui pipet kaca khusus, satu butir sperma tersebut disuntikkan langsung menerobos dinding masuk ke dalam satu sel telur yang juga sudah dinilai paling baik. Langkah selanjutnya adalah seperti pada cara FIV konvensional.
Keuntungan lain dari program TRB ini adalah adanya peluang untuk meyimpan sel benih (spermatozoa, sel telur) atau kelebihan embrio. Perangsangan indung telur pada cara TRB memungkinkan terbentuknya banyak embrio. Tidak mungkin semua embrio dipindahkan kembali (transfer) ke dalam rahim pada saat bersamaan. Oleh karena itu, kelebihan embrio yang untuk sementara tidak digunakan dapat disimpan dengan cara simpan beku (cryopreservation) dalam petikemas (container) berisi nitrogen cair (liquid nitrogen) pada suhu 196oC di bawah nol derajat. Daya tampung petikemas itu mencapai sekitar 100 embrio.
Simpan-beku embrio ini menguntungkan pasutri infertil peserta program TRB karena dapat menghemat biaya sebab tidak perlu mengulang proses penanganan dari awal lagi. Embrio dapat ditanamkan pada siklus berikutnya bilamana diperlukan, baik pada siklus yang gagal maupun bila siklus sebelumnya berhasil hamil. Perlu dicamkan bahwa sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia, maka bahan embrio dan sel benih (spermatozoa dan sel telur) yang tersimpan beku itu hanya diperuntukkan bagi pasutri pemilik bahan tersebut. Di Indonesia, teknik simpan beku embrio sudah dilakukan sejak 1992.
Contoh keberhasilan teknik simpan beku embrio telah dilaporkan di Belgia, yang belum lama lahir seorang bayi laki-laki sehat hasil penanaman embrio hasil simpan beku selama 7,5 tahun dari pasangan lain (anonim). Bayi tersebut lahir dengan berat badan 4000 gram. Bukti ini memperlihatkan bahwa daya-tahan embrio yang telah di-bekukan bertahun-tahun ternyata tetap dapat lahir menjadi bayi sehat.
Program TRB merupakan bagian dari upaya mulia menolong sesama manusia yang membutuhkannya
Teknologi reproduksi secara FIV ternyata telah sangat membantu pasutri yang mengalami kesulitan untuk memiliki keturunan karena mengalami satu atau beberapa gangguan reproduksi. Mengupayakan pasutri infertil tersebut agar berhasil mempunyai anak sungguh merupakan perbuatan mulia dan membahagiakan, sekalipun pembuahannya dilakukan di laboratorium. Selain Louise Brown, mungkin banyak pula anak lain yang dilahirkan melalui teknik ini ikut bersyukur bahwa kedua orang tuanya mengikuti program itu.
Di Indonesia, teknik FIV sudah dirintis sejak tahun 1985 oleh kelompok pakar fertilitas di FKUI, tepatnya Makmal Terpadu Immunologi FKUI, Jakarta, dan mulai me-nampakkan hasil pada tahun 1987. Sekarang program TRB ini telah didukung oleh Undang-undang Nomor 23 yang dikeluarkan pada tahun 1992 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 72/Menkes/Per/II/1999 tentang penyelenggaraan Teknologi Repro-duksi Buatan.
Saat ini, di Indonesia terdapat 14 sentra atau rumah sakit yang telah melayani teknik bayi tabung yang tersebar di 6 kota yaitu Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Denpasar dan Medan. Untuk Jakarta, salah satu di antaranya adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak SamMarie Basra.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang fasilitas TRB FIV RSIA SamMarie Basra silakan hubungi Telp. 021-866.131.45 dan 866.131.46 atau datang langsung ke Jalan Basuki Rachmat No. 31, Pondok Bambu, Jakarta Timur 13430.
Fasilitas TRB FIV (“Bayi Tabung”) RSIA SamMarie Basra
RSIA SamMarie Basra tidak hanya sekedar rumah sakit untuk ibu dan anak seperti kebanyakan yang sudah ada. RSIA ini lebih berciri unik, karena memfokuskan diri pada penanganan fertilitas sebagai ‘identitas’ diri. Untuk itu, kelengkapan laborato-rium fertilitas merupakan suatu keharusan bagi kami.
Laboratorium TRB FIV (“bayi tabung”) di RSIA SamMarie Basra merupakan salah satu yang terlengkap di Indonesia, dirancang dan berada di bawah pengawasan tim pakar dari Laboratorium sejenis di Monash University, Australia. Selain itu, para pakar embriologi dan pakar fertilitas FKUI juga ikut berkerjasama dengan tim pakar fertilitas RSIA SamMarie Basra untuk membina dan menjamin mutu hasil kerja kami.


Laboratorium Bayi Tabung RSIA SamMarie Basra
Seluruh tahap penanganan fertilitas untuk pasutri infertil dapat dilakukan di sini, sampai pada tahap akhir dengan pembuahan in vitro. Selain di SamMarie Basra, penanganan pasutri infertil secara terpadu juga sudah sejak tahun 1998 dilakukan oleh para tim dokter pakar fertilitas di Klinik Fertilitas SamMarie, di Jalan Wijaya I No. 45, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebelum Laboratorium TRB FIV SamMarie Basra didirikan, semua pasutri infertil peserta FIV ditangani oleh tim pakar fertilitas FKUI di sana Klinik Yasmin FKUI. Sekarang, dengan telah tersedia fasilitas laboratorium FIV yang lengkap dan modern, semua perlakuan laboratorium dilakukan di tempat kami sendiri di RSIA SamMarie Basra.
Kami RSIA SamMarie Basra juga memberikan kesempatan bagi para sejawat dokter pakar fertilitas dan sejawat dokter spesialis obstetri-ginekologi untuk mengirim, mengantar sendiri pasiennya, atau ikut sebagai pengamat mendampingi pasiennya selama ditangani FIV di RSIA SamMarie Basra.
Fasilitas Penunjang lain
Selain laboratorium FIV yang modern dan lengkap, RSIA SamMarie Basra juga dilengkapi dengan tiga kamar bedah yang dibuat berstandar intenasional. Ruang persalinan yang luas, dan kamar bayi baru lahir yang nyaman. Juga ditunjang dengan ruang HCU, NICU, dan PICU.
Selain itu, disiapkan juga ruang perawatan mulai dari Kelas II hingga VVIP. Sebagian fasilitas poliklinik dan rawat-inap dapat dilihat pada beberapa foto berikut ini:


Ruang Rawat Inap Kelas VIP Ruang Rawat Inap Kelas II

Ruang Periksa Obstetri-Ginekologi
‘Tips’ untuk peserta program “Bayi Tabung”
- Kunjungi dokter spesialis Obstetri-Ginekologi Anda untuk memperoleh penjelasan yang lebih mendalam tentang langkah-langkah apa saja yang perlu ditempuh dalam penanganan Anda sebagai pasutri yang ingin memiliki keturunan.
- Bilamana dokter Anda menemukan penyulit (kelainan) pada alat reproduksi Anda sebagai pasutri dan tidak mungkin lagi untuk berhasil hamil dengan cara-cara alami, maka besar kemungkinan Anda akan dianjurkan memilih cara bayi tabung.
- Anda sebagai pasutri infertil peserta program bayi tabung, biasanya akan diminta untuk menandatangani surat perjanjian tertulis, yang isinya antara lain bersedia untuk dilakukan tindakan yang dianggap perlu misalnya pembedahan, risiko hamil kembar, dan risiko lain yang dapat timbul.
- Program bayi tabung dimulai berdasarkan masa haid. Calon ibu akan diberi obat-obat hormon untuk memicu perkembangan kantong telur (folikel) di indung telur (ovarium) untuk menghasilkan banyak sel telur. Selanjutnya akan dilakukan panen oosit (disingkat PO) atau panen sel telur (ovum pick-up, disingkat OPU). Calon ayah akan diambil spermanya dengan cara masturbasi. Bilamana jumlah sperma-tozoa tersebut cukup banyak dan memenuhi syarat, maka akan ditaburkan ke sel telur di dalam cawan biakan. Cawan berisi sel-sel benih ini akan dieram di laboratorium sampai tumbuh menjadi mudigah (embrio).
- Namun demikian, bilamana ketika masturbasi tak ditemukan sperma, berarti ada sumbatan. Untuk itu akan dilakukan cara lain, yaitu dengan MESA (microsurgical epydidimis sperm aspiration), spermatozoa diambil langung dari wadahnya. Juga diambil dengan cara TESA (testicular sperm extraction), sperma diambil langsung dari testis.
- Jika spermatozoa yang dihasilkan sangat sedikit, maka akan dilakukan teknik SSIS (suntik sperma intrasitoplasma).
- Setelah terjadi pembuahan (fertilisasi) dan terbentuk mudigah, maka mudigah itu ditandur-alihkan (dipindahkan) ke selaput dalam rahim calon ibu.
- Calon ibu dipantau beberapa waktu sampai 14 hari kemudian dengan pemeriksaan hormon kehamilan (hCG) darah dan pemeriksaan USG.

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 22 Juni 2011 17:03 )

Persiapan “Lahan” sehat untuk janin

Kepala berdenyut alias pusing, sudah menjadi kebiasaan sehari-hari banyak orang. Bahkan mereka pun menganggapnya enteng saja. Cukup beli obat di warung maka selesailah. Padahal tak sesederhana itu lho.... Sakit kepala banyak jenisnya. Ada yang mudah penanganannya dan ada juga yang perlu diwaspadai. Penasaran, apa yang ada di balik sakit kepala...?
Gigi sehat adalah gigi yang bersih tanpa lubang. Maka rawatlah gigi secara baik dan teratur, kalau ada gigi yang berlubang, segera periksa ke dokter gigi.