Keberhasilan Pasien ILS
Perjalanan Infertilitas adalah Marathon, Bukan Sprint.
Perjalanan menuju kehadiran buah hati yang dinanti adalah sebuah roller coaster emosi, terutama bagi pasangan Ibu Dewi dan Bapak Arianto. Setelah delapan tahun penantian dan perjuangan intensif sejak tahun 2022, mereka terus berjuang mewujudkan mimpi menjadi orang tua.
Perjalanan mereka penuh tantangan, mulai dari perbaikan kondisi kesehatan, diagnosis alergi sperma, hingga penemuan polip yang mengharuskan Ibu Dewi menjalani operasi di akhir tahun 2022. Tantangan berlanjut saat program harus tertunda 4 bulan karena Ibu Dewi menderita HNP (Hernia Nukleus Pulposus) parah dan memerlukan fisioterapi. Setelah dua kali kegagalan inseminasi pada tahun 2023, mereka akhirnya memilih program Bayi Tabung (IVF) di SamMarie Basra, berkat rekomendasi dari seorang teman yang telah berhasil.
Di bawah bimbingan Dr. Niken dan Dr. Lutfi, transfer embrio pertama yang dilakukan pada September 2023 ternyata gagal. Pukulan tersebut tidak memadamkan semangat mereka. Dengan kekompakan yang kuat, mereka memutuskan untuk menunggu 3 bulan sambil melakukan cek ulang dan perbaikan, berpegangan pada keyakinan bahwa mereka masih bisa berikhtiar lebih jauh lagi. Transfer embrio beku kedua pun dilakukan pada 17 Januari. Tak disangka, 13 hari setelahnya, hasil Beta HCG melonjak hingga 500 sekian, sebuah mukjizat yang membuktikan perjuangan mereka.
Pelayanan yang Komunikatif, Menghadirkan Ketenangan
SamMarie Basra memahami bahwa proses program hamil adalah momen penuh ketidakpastian. Ibu Dewi dan Bapak Arianto secara khusus mengapresiasi aspek pelayanan rumah sakit. Mereka merasakan adanya komunikasi yang sangat baik, bersama dr. Rr Niken Pudji Pangastuti, SpOG, K.FER dan dr. Lutfi Hardiyanto, Ph.D, Sp.And . Hal ini menciptakan rasa tenang dan aman, jauh dari kekhawatiran.
Kepercayaan yang Menguatkan: Kekompakan dan Ikhtiar
Kunci utama dari keberhasilan ini adalah kepercayaan yang kuat dan kekompakan dalam rumah tangga. Ibu Dewi menekankan bahwa sepanjang 8 tahun pernikahan dan masa-masa perjuangan program hamil, mereka tidak pernah saling menyalahkan. Mereka berpegang teguh pada prinsip bahwa ikhtiar itu sendiri sudah mendapatkan pahala. Mereka percaya, berhasil atau tidak, itu adalah ketetapan Allah, namun mereka harus mengejar batas maksimal ikhtiar yang mereka bisa. Keyakinan penuh—ditambah dukungan keluarga—menjadi pilar yang menguatkan hingga akhirnya Mukjizat Allah itu datang.
Hari ini, Ibu Dewi dan Bapak Arianto bukan lagi sekadar bermimpi. Kehadiran buah hati mereka, Muhammad Barata Arianto, menjadi bukti nyata bahwa dengan pendampingan dokter yang tepat, perencanaan yang matang, ketekunan, dan keyakinan yang kuat, impian menjadi orang tua dapat diwujudkan dengan indah setelah perjuangan panjang.
Video selengkap wawancara bersama Ibu Dewi dan Bapak Arianto: http://www.youtube.com/watch?v=m_S5kAMAhIY
