Perbedaan Analisis Sperma Rutin dan Tes HALO (DFI)
Bagi para pejuang garis dua, pemeriksaan analisis sperma kini menjadi langkah awal yang sangat penting untuk diketahui. Pemeriksaan penunjang fertilitas tidak hanya berfokus pada pihak wanita saja, namun kesehatan reproduksi pria juga memegang peran krusial dalam keberhasilan program hamil.
Oleh karena itu, evaluasi kesehatan suami umumnya dimulai dari pemeriksaan laboratorium ini untuk menggambarkan tingkat kesuburannya. Namun, apakah pemeriksaan standar tersebut sudah cukup? Selanjutnya, mari simak penjelasan lengkap dari dr. Lutfi Hardiyanto, Ph.D, Sp.And berikut ini.
Apa Bedanya Analisis Sperma Rutin dan Tes HALO (DFI)?
Dalam pemeriksaan medis standar, proses analisis sperma rutin umumnya mengevaluasi beberapa aspek utama, seperti:
- Jumlah sperma (baik per mililiter maupun per ejakulasi).
- Motilitas atau pergerakan sperma (apakah bergerak cepat dan lurus).
- Morfologi atau bentuk fisik kepala dan struktur sperma.
Meskipun komponen di atas sudah mewakili standar pemeriksaan dasar, ternyata ada satu hal penting yang sering terlewat, yaitu kualitas isi kepala sperma atau yang disebut sebagai DNA sperma.
Mengapa Pemeriksaan DNA Sperma Melalui Tes HALO Sangat Penting?
Dalam proses pembuahan alami, peran DNA dari sel sperma sama dominannya dengan DNA dari sel telur. Jika DNA sperma mengalami kerusakan, maka peluang terjadinya kehamilan akan menurun drastis.
Bahkan, jika pembuahan tetap terjadi, beberapa risiko serius yang sering mengikutinya antara lain:
- Terjadinya keguguran berulang atau abortus.
- Potensi pertumbuhan janin atau keturunan yang tidak normal.
Oleh sebab itu, pemeriksaan lanjutan seperti tes HALO atau yang dikenal sebagai DNA Fragmentation Index (DFI) Test sangat disarankan sebagai pelengkap hasil analisis sperma. Biasanya, standar laboratorium di dunia menetapkan ambang batas normal kerusakan DNA di bawah 20% hingga maksimal 30%. Artinya, jika tingkat kerusakan sperma masih di bawah batas tersebut, peluang terjadinya kehamilan yang aman masih sangat besar.
Apa Saja Faktor yang Menyebabkan DNA Sperma Rusak?
Umumnya, tingginya tingkat kerusakan DNA sperma di dalam tubuh pasien dipicu oleh lonjakan radikal bebas. Di samping itu, terdapat beberapa faktor pemicu utama yang harus diwaspadai, yakni:
- Merokok dan Penggunaan Vape
Kandungan zat kimia dalam rokok terbukti merusak sel tubuh dalam waktu relatif singkat (bahkan penelitian menunjukkan kerusakan paru yang signifikan dalam dua tahun). Maka dari itu, kebiasaan ini wajib dihindari. - Kegemukan atau Obesitas
Lemak berlebih dalam tubuh berkaitan erat dengan kerusakan DNA sperma. Dalam ilmu andrologi, rumus berat badan ideal dihitung dari tinggi badan dikurangi 100 dengan toleransi plus minus 2 kilogram (contoh: tinggi 170 cm, berat idealnya adalah 68-72 kg). Apabila berat badan melebihi angka tersebut, penumpukan lemak akan memicu radikal bebas. - Olahraga Berlebihan
Aktivitas fisik atau olahraga yang dilakukan secara berlebihan atau ekstrem ternyata juga dapat memberikan efek buruk dan merusak kualitas sperma. - Peningkatan Leukosit
Hasil laboratorium yang menunjukkan tingginya kadar leukosit biasanya menandakan adanya peradangan, yang mana hal ini sering kali berkolerasi dengan kerusakan DNA sperma.
Wujudkan Program Hamil Sukses Bersama Dokter Andrologi Sammarie
Pemeriksaan kesehatan reproduksi pria kini semakin komprehensif, mulai dari analisis sperma hingga evaluasi mendalam melalui tes HALO. Dengan mengetahui kondisi reproduksi sejak dini, pasangan pejuang garis dua dapat mengantisipasi berbagai hambatan program hamil secara lebih akurat.
Jika Anda dan pasangan ingin melakukan konsultasi lebih lanjut mengenai persiapan promil atau pemeriksaan fertilitas pria, maka segera jadwalkan kunjungan bersama dr. Lutfi Hardiyanto, Ph.D, Sp.And di RSIA Sammarie Basra.
Konten Video Edukasi : dr. Lutfi Hardiyanto, Ph.D, Sp.And
