Mengapa Dokter Melarang Makan dan Minum Sebelum Operasi?
Puasa sebelum operasi adalah salah satu persiapan penting sebelum menjalani operasi. Meski terlihat sederhana, puasa ini memiliki alasan medis yang krusial agar proses operasi berlangsung aman dan lancar, serta meminimalkan risiko komplikasi.
Mengapa Puasa Sebelum operasi Sangat Penting?
Puasa sebelum operasi diperlukan untuk mencegah terjadinya refluks (aliran balik cairan lambung ke kerongkongan dan saluran pernapasan saat pasien berada di bawah efek anestesi). Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan aspirasi yaitu masuknya isi lambung ke saluran pernapasan yang dapat menimbulkan infeksi paru-paru, sesak napas, bahkan komplikasi serius lainnya selama atau setelah operasi.
Kenapa Harus Puasa 6-8 Jam?
Saat makanan masuk ke mulut dan ditelan, proses pencernaan membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam untuk memecahkan makanan dan mengosongkan lambung. Namun, untuk memastikan lambung benar-benar kosong dan cairan tidak tersisa dalam jumlah signifikan, waktu ideal yang dianjurkan adalah 6-8 jam sebelum tindakan operasi.
Dalam waktu ini, perut benar-benar dalam kondisi kosong sehingga saat anestesi diberikan, risiko refluks dan aspirasi menjadi minimal. Oleh sebab itu, pasien biasanya diinstruksikan untuk tidak makan dan minum apapun selama 6-8 jam sebelum prosedur.
Bagaimana dengan Kasus Darurat?
Terkadang ada kasus emergency yang memerlukan tindakan operasi segera tanpa bisa menunggu waktu puasa ideal, seperti kecelakaan, pendarahan hebat, atau kondisi mengancam nyawa lainnya. Pada situasi ini, tim medis terutama Dokter Spesialis Bedah dan Dokter Spesialis Anestesi bekerja sama dengan cepat untuk menilai risiko dan menentukan langkah terbaik yang dapat dilakukan.
Dokter Spesialis Anestesi akan mempertimbangkan situasi pasien dan menggunakan teknik khusus guna meminimalkan risiko aspirasi saat memberikan anestesi. Meski demikian, setiap upaya akan dilakukan agar tindakan seaman mungkin meskipun waktu puasa tidak dapat dipenuhi.
